Tuesday, August 3, 2010

Tisu Buta

Langkah demi langkah
Berlalu,
Tisu itu untuk yang celik
Dijual yang buta
Tapi yang celik buta
Buta itu yang celik

Tepi tangga,
Atas tangga,
Buta lahir manusia,
Celik batin jiwa.

Kuala Lumpur, Sya'ban 1431H

3 comments:

  1. Untuk yang celik tapi buta..mengingatkan saya puisi Nora, Kubur Alaf Baru..

    Sehebat mana maha-maha namamu
    Setinggi mana martabatmu
    Sebanyak mana harta karunmu
    sebanyak mana bintang-bintang tersisip di dadamu
    kubur alaf baru menunggumu
    digenggam jari-jari tanah
    didakap cacing dan ulat-ulat
    dibawah kolong bumi

    Jundah~

    ReplyDelete
  2. Catatan: Puisi ini diilhamkan sewaktu berjalan di Kuala Lumpur, di stesen Putra Masjid Jamek. Melihat dua orang buta yang jarang di ambil perhatian masyarakat sebagai seorang yang sempurna ruhnya.
    Apabila lalu, yang dilihat ialah orang buta, tapi tidak dilihatnya orang itu sebagai penjual tisu. Memandang orang itu buta, cenderung untuk melihat kekurangan, memandang dia sebagai penjual, cenderung untuk melihat seorang peniaga!

    Pandang memberi tentang...

    ReplyDelete
  3. Darjat. Darjat harta, darjat kuasa dan darjat maruah. Yang berharta dan berkuasa, tak semestinya bermaruah. Yang tidak berharta dan berkuasa, kadang maruahnya tinggi menjulang..

    Teropong hati..

    Jundah~

    ReplyDelete

There was an error in this gadget